Di Kelurahan Sambirejo dan Kelurahan Tambakdono, total ada 466 hektare tambak yang rusak. Kerugiannya diperkirakan mencapai Rp 4,1 miliar lantaran benih ikan di tambak ikut terseret luapan Kali Lamong.
“Rata-rata tambaknya diisi benih bandeng dan udang yang dalam waktu dekat segera panen. Tapi karena banjir dan tambak terendam air, maka panen bandeng dan udang yang keuntungannya bisa mencapai Rp 4,1 miliar, hilang,” kata Camat Pakal Surabaya, Edi Kristianto, Senin (7/2).
Edi menyebut, luapan Kali Lamong di awal tahun 2011 ini tergolong sebagai banjir yang paling parah sejak 2004 silam. Sebab banjir yang berlangsung sejak Senin (31/1) lalu hingga sekarang masih belum surut.
Kawasan Pakal sendiri dikepung banjir tepatnya di dua kelurahan, yakni, Kelurahan Tambakrejo dan Kelurahan Tambakdono. Selain luapan Kali Lamong, banjir itu juga diperparah oleh adanya pendangkalan pada sungai tersebut.
“Kali Lamong sekarang ini sangat dangkal. Banyak lumpur mengendap di di bagian bawahnya. Kini, kedalamannya tinggal sekitar 2 meter, padahal seharusnya kedalaman minimalnya 10 meter,” jelas Edi.
Terkait musibah ini, dia berharap bantuan pemerintah bagi petani tambak yang lahannya rusak karena banjir bisa segera menyusut. Paling tidak, ada bantuan benih ikan bagi mereka untuk memulai usaha baru. Tujuannya, agar kalau rugi tidak terlalu banyak.
Edi menambahkan, sebenarnya bantuan benih ikan dari Dinas Pertanian Kota Surabaya sudah akan diberikan. Hanya saja, pemberian bantuan gagal lantaran banjir kembali terjadi. “Bantuan untuk bulan Desember 2010 kemarin sebetulnya sudah direncanakan, tapi karena banjir, bantuan tidak jadi diberikan,” tuturnya.
Selian itu, dia juga berharap Pemkot Surabaya segera menangani sumber banjir di sana. Yakni, dengan melakukan pengerukan Kali Lamong yang terus mengalami pendangkalan. Sehingga dikemudian hari peristiwa serupa tak terjadi lagi.
Untuk mencegah luapan itu, sepanjanjang bibir Kali Lamong dibuat tanggul sungai sepanjang bibir Kali Lamong. Tanggul ini diharapkan mampu menanggulangi banjir kiriman. “Hanya itu cara menanggulangi banjir dari Kali Lamong,” ujarnya.
Selama banjir kali ini, lanjut Agus, ketinggian air yang menggenangi permukiman warga antara 1,5 m-2 m. Akibatnya, aktivitas warga setempat menjadi terganggu. “Selama hampir satu minggu, nyaris tak ada aktivitas dari warga setempat. Bahkan, sekolah dan instansi pemerintahan yang ada di kawasan tersebut sengaja diliburkan selama satu minggu lantaran gedungnya terendam air,” jelasnya.
Kendati demikian, masih ada satu dua warga yang tetap menjalankan aktivitasnya. Misalnya, para pekerja pabrik yang bekerja di luar kecamatan Pakal. Mereka harus tetap masuk kerja meskipun tempat tinggalnya terkena banjir dan semua akses jalannya tertutup air.”Mereka tidak bisa libur, kalai libur bisa dipecat,” terang Edi.
Untuk membantu warga yang menjalankan aktivitas di luar, petugas pemerintahan setempat menyiapkan alat transportasi khusus. Yakni, truk dan perahu karet. Dengan alat transportasi itu warga bisa menempuh perjalanan dari tempat tinggalnya masing-masing sampai ke luar kawasan banjir. “Sebenarnya kendaraan kecil masih bisa. Tapi harus tahu kondisi jalannya, mbleset sedikit sudah tidak bisa apa-apa. Lebih aman naik truk,” ungkapnya.
Genangan air di kedua kelurahan itu memang sudah mengalami penuruan. Meski ada penurunan tetap masih tinggi karena mencapai 50- 70 centimeter.
Sejauh ini aktivitas warga belum bisa berjalan nomal dan mereka masih tetap harus waspada, jika sewaktu-waktu air meluap dan genangannya jadi tinggi lagi. Kekhawatiran ini muncul sebab curah hujan masih cukup tinggi dan keadaan cuaca sangat sulit diprediksi.
Sementara bantuan untuk warga Kelurahan Sambirejo dan Kelurahan Tambakdono terus mengalir. Selain dari Dinas Sosial, bantuan juga datang dari kalangan masyarakat lainnya. Seperti kemarin, pengurus DPD Partai Demokrat Jawa Timur beserta kader partai lainnya mengunjungi lokasi banjir untuk memberikan bantuan.



