Sebait syair lagu ini cukup dikenal, paling tidak ada pesan kawasan Tanjung Perak berada di tepi laut, konon tempat ini tersimpan harta karun berupa perak.
“Dinamakan Tanjung Perak karena di sekitar perairan selat Madura itu masih terdapat banyak harta karun berupa kandungan perak peninggalan dari kapal-kapal yang tenggelam di perairan tersebut,” terang Sugiarjo (50) sesepuh warga Kelurahan Perak Utara.
Menurutnya, cerita turun temurun itu bisa jadi benar, karena sebelumnya juga pernah ada orang-orang dari luar negeri yang datang ke kawasan Tanjung Perak dan melakukan negosiasi untuk pengangkatan bangkai kapal yang memuat kandungan berharga itu.
“Perkembangan terakhirnya seperti apa saya belum mengetahui,” katanya.
Menurutnya nama Tanjung Perak tidak bisa dilepaskan dari nama Hujunggaluh. Dari cerita yang diperoleh makna hujung atau ujung yang menjorok ke laut, yakni tanjung. Bisa jadi wilayah ini berada di pantai.
Sedang galuh sendiri berarti emas. Sumber lain menyebutkan dalam bahasa Jawa tukang emas dan pengrajin perak ini biasa disebut wong anggaluh.
Sedang dalam purbacaraka galuh sama artinya dengan perak.
Hujung Emas berarti bisa disebut pula sebagai Hujung Perak yang kemudian menjadi Tanjung Perak. Lokasinya terletak di muara sungai Kalimas. Berdasar itulah Tanjung Perak sekarang ini bisa jadi dulunya bernama Hujunggaluh.
Berdasar prasasti Klagen, lokasi Hujunggaluh itu sebagai pelabuhan, yakni bertemunya pedagang lokal dan antarpulau serta kegiatan bongkar muat perahu.
Versi lain tanggal 31 Mei 1293 Raden Wijaya (Pendiri Kerajaan Majapahit) berhasil mengusir pasukan Kaisar Mongolia atau dikenal tentara Tar-Tar dari Bumi Majapahit. Tentara Tar Tar meninggalkan Majapahit melalui sebuah desa yang terletak di ujung utara Surabaya di Muara Kalimas.
Dalam perkembangan sendiri Tanjung Perak terbagi dalam beberapa bagian kelurahan, yakni Perak Barat, Perak Timur, dan Perak Utara.
Salah satu tetenger lain yang mengingatkan warga Surabaya tentang Tanjung Perak adalah Masjid Mujahidin yang berlokasi di Jalan Perak Barat.
Masjid yang direncanakan pertama kali Pada Tahun 1954 di dirikan karena kebutuhan tempat ibadah warga muslim yang berada di kawasan Tanjung Perak. Saat itu untuk mencari tempat tarawih sulit sekali, maka didirikanlah Masjid Mujahadin ini,” kata Sugiarjo yang juga Ketua Takmir Masjid Mujahidin.
Kini masjid tersebut bukan hanya untuk ibadah salat rawatib dan kegiatan syiar Islam lainnya, namun juga mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah. Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh wali kota Surabaya saat itu yakni Wali kota Moestadjab Soemowidigdo, sementara peresmian dilakukan oleh Presiden Soekarno.
Mujianto (45) warga Perak Timur menambahkan, perkembangan kawasan Tanjung Perak ini cukup pesat. Di kampung Perak Timur sendiri permukiman warga sudah sangat padat.
“Warganya campuran ada keturunan Arab, etnis Tionghoa, pribumi dan Madura, mereka sangat rukun,” katanya.
Warga di Perak Timur ini beraktivitas dengan berwiraswasta sebagai pedagang.
Kawasan yang cukup pesat dalam perdagangan di kawasan Perak ini, antara lain, di Jalan Johor, Jalan Pahang, Jalan Trengganu, dan Jalan Selangor.
Selain pedagang di kawasan ini juga banyak usaha konveksi. “Konveksi ini ada yang membuat baju takwa, kopyah, sandal dan lainnya,” tambah Amin warga Perak Timur lainya.

PINTU GERBANG - Monumen Kapal di pintu gerbang memasuki Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, menjadi penanda memasuki kawasan pelabuhan Surabaya



