Warga yang terisolir itu, sudah lima hari tak bisa beraktivitas. Selama ini, mereka hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah, partai politik dan para dermawan.
Camat Pakal, Eddy Kristianto mengatakan yang diperlukan warga korban banjir memang sembako dan obat-obatan. "Saat ini, pemkot sudah menyiapkan SKPD di daerah ini. Bantuan juga sudah ada," ujar Eddy.
Lebih lanjut, Eddy mengatakan untuk mengatasi masalah banjir rutin di kawasan ini perlu penanggulan dan pengerukan Kali Lamong. "Kedalamannya hanya dua meter, seharusnya 10 meter. Akibat bencana ini, warga di dua kelurahan yang memiliki tambak udang dan bandeng mengalami kerugian sekitar Rp 4,2 miliar," imbuhnya.
Sementara Sekretaris DPD PD Jatim Fandi Utomo mengatakan, pemkot dan dewan harus bisa melakukan intervensi anggaran untuk mengatasi banjir di Surabaya, khususnya kawasan Pakal. "Harus mampu mendorong provinsi dan pusat untuk mengatasi Kali Lamong. Kali Lamong memang urusannya pusat," ujar Fandi Utomo.
Namun yang perlu dipertanyakan adalah janji pemkot soal rencana pembangunan boozem di kawasan ini. Sampai saat ini hal itu belum terwujud. Menurut salah satu warga setempat, biasanya banjir ini merupakan siklus lima tahunan, namun kali ini justru dirasakan warga setiap dua bulan sekali.
Informasinya, kawasan ini sengaja tak mendapat perhatian serius pemkot karena ada dugaan upaya merusak harga tanah. Jika kawasan itu banjir maka harga tanah akan jatuh, lantas pengembang yang akan mengambil perannya dengan membeli lahan secara sporadis. Perlu diingat, kawasan banjir itu sangat dekat dengan SSC, sehingga banyak dilirik pengembang perumahan.




